Langsung ke konten utama

Postingan

Terjebak Kemacetan

Selasa petang di Surabaya
adzan maghrib sahut-menyahut tapi kalah keras dengan guyuran hujan deras
yang juga memaksa makhluk-makhluk ciptaan-Nya
menahan diri untuk tidak beringas di tengah kemacetan jalan raya yang berkilo-kilo panjangnya

kami semua ada di dalam kemacetan itu

ketika
anak-anak kecil di gang kampung hujan-hujanan mumpung bapaknya belum datang
mereka lebih takut ditampar dan dihajar daripada diculik setan
di bawah jembatan penyebrangan orang-orang tua memarkir motornya dan mengerumuni gerobak bakso
sesaat bahagia sambil kepanasan lidahnya kena kuah panas
si penjual itu lebih lama bahagianya
syukur hujan membawa berkah dan bisa tidur nyenyak nanti malam

umpatan dan bunyi klakson tak bermakna lagi
tak bisa mewakili amarah dan ketakutan mereka
rasa syukur dan kepuasan yang ini hanyalah semu
ketidaksadaran terlalu lama ada dalam penderitaan
senyum yang selalu pura-pura
saat menjilat pada atasan tempat kerjanya
maupun saat menahan lapar di depan putra putrinya
mereka semua ha…
Postingan terbaru

Sejenak Menjadi Orang Paling Bahagia

sirene ambulans tanpa pasien meraung-raung
mobil-mobil plat merah dan hijau mau tidak mau harus merendahkan harga dirinya
beberapa kali aku merasa seperti pahlawan
setelah terpaksa kuhentikan kendaraanku dan kupersilakan kendaraan lain lewat
pertanyaan kulontarkan sebelum menguap bersama umpatan dan bising klakson
mengapa di jalanan orang-orang mempertontonkan kuasa dan kebebasannya
meyakini keputusan-keputusannya
memperjuangkan hak-haknya
tapi sepulangnya kembali menangis pasrah menerima nasib?

kecemasan dan penderitaan
kegagalan kehidupan
hasrat yang sia-sia
sejenak aku menjadi orang paling bahagia
di tengah kemacetan jalan raya
tak ada yang harus diharapkan
sampai aku tak ingat untuk melihat jam tangan

dan mungkin, aku punya lebih banyak waktu untuk memahami mereka

***

Surabaya, 30 November 2017
Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Mendefinisikan Ketulusan

katamu,
orang-orang memberi sambil berharap mendapatkan lebih banyak
mengecup kening sambil mengingat kesalahan-kesalahan pasangannya
menuntut balas dan mengancam setelah membesarkan anak-anaknya
sakit keras karena kecewa
giat beribadah dan sering bicara tentang neraka
suka memuji sambil memuja diri sendiri
mendongeng tentang balas dendam
mencari kata impas dalam kamus bahasa indonesia
aku lupa apa saja yang kau ceritakan malam itu

garis lingkaran selalu kembali pada titik berangkat
merpati selalu tahu kemana ia harus pulang
tapi perpisahan dan rasa sakit tidak merencanakan itu
tubuh ini terus berjalan tanpa menoleh ke belakang
sendiri menuju keramaian
berbagi makna ketulusan
mengutuki waktu yang tak pernah merasa bersalah

ah,
aku ingin segera bertemu denganmu
membahas masa kecil dan hal-hal baru

***

MH, Surabaya, 22 November 2017
Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Naik Pangkat

Ibu menyuruhku untuk belajar sehabis maghrib
lalu tidur pukul sembilan
Ibu akan memukul bokongku dengan penebah
kalau aku terlambat pulang setelah bermain
atau kalau nilai rapotku jelek
atau kalau malam-malam mencuri waktu untuk menonton tv 
Ibu sering menangis
dan berkata padaku untuk jangan pernah menangis

Ibu mengajarkanku tentang kehormatan
cara memandang, bicara, berjalan dan berlaku sehormat-hormatnya
Ibu sedikit bicara dan mengajarkanku tentang keyakinan
memberikan pemahaman agar aku patuh dan tidak banyak bertanya
Ibu membela sepenuh hati saat aku dihajar anak tetangga
Berdiri dengan kekuatanku sendiri, takkan kuterima apa-apa yang mengancam keutuhan bangsa
Ibu pernah menamparku saat aku berbohong
telah kuhajar pula, ketika mereka memaki dan berteriak gila mengakui apa yang bukan haknya
Ibu adalah orang yang ikhlas
aku tidak begitu simpati pada mereka yang tersedu-sedu berpisah dengan anggota keluarganya
Ibu pernah mengajarkan aku untuk tegar
air mata dan berita orang-orang y…

Membahas Dosa

anak itu
tahu dari berita, air keras bisa digunakan untuk melukai dan meneror orang lain
ia belajar kata-kata kotor dan kepasrahan dari kumpulan pelacur di rumah seberang jalan
ia belajar memukul setelah dipukul bocah sepantarannya sampai mimisan
ia belajar dendam setelah menonton sinetron di televisi kecil ruang tamunya
ia belajar membenci dari spanduk ormas dan selebaran-selebaran di rumah ibadah tempatnya mengaji
ia belajar menginjak-injak makanan dan menggunjing di pesta pernikahan saudaranya
ia tahu ternyata uang selalu bisa melancarkan urusan, dari kantor-kantor yang ia datangi bersama bapaknya
ia belajar korupsi waktu berangkat sekolah dari karyawan-karyawan melarat yang mengendarai motor terburu-buru
ia belajar dari guru agamanya untuk menerima aturan dan keadaan tanpa banyak bertanya
ia tahu arti kata bunuh diri waktu kampungnya geger kabar perempuan muda dan bayinya mati dalam kamar
ia belajar membunuh dari buku, film, dan lagu cinta yang sengsara
ia belajar hukum dari tenta…

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  "Woh, pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno."
Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbakku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa. 
Rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku. Meman…

Ramadhan Masih Seperti Biasanya

Mohon maaf
aku masih sering bangun kesiangan karena malam sebelumnya onani
masih tertawa-tawa menghina diri sendiri
masih tenggelam dalam maya, tidur kehabisan tenaga dalam nyata
menghafalkan buku pelajaran dan lagu cinta
mencari jati diri

lewat layar kecil 14 inci di rumah-rumah semi permanen kolong jalan tol
mereka masih tetap tersenyum bahagia, penuh harap, dan memupuk doa menyaksikan iklan sirup dan teh hangat
matahari naik besok, mereka puasa dan digusur
petugas yang membentak-bentak itu sama miskinnya
sementara di atas gedung pahala dan keuangan mengalir sama derasnya